Media

Press Release

Adu Teknologi Marakkan Pameran Refrigerasi dan HVAC ke-3 di JI Expo

Untuk yang ke-3 kalinya, pameran teknologi Refrigerasi dan HVAC (Heating Ventilating and Air Conditioning), Refrigeration and HVAC Indonesia (RHVAC) akan digelar di JI Expo Kemayoran, Jakarta. Pameran ini bertujuan memberikan solusi terkait pada industri rantai pendingin, tata udara bangunan dan sektor komersial. Pameran ini diadakan bersamaan dengan International Indonesia Seafood and Meat Expo (IISM Jakarta) yang berfokus pada teknologi rantai pendingin makanan.
 
 
“Target kami selama pameran adalah mempertemukan para buyer dan seller dari beberapa negara untuk deal bisnis dan networking agar koneksi bisnisnya mengglobal. Jadi, kami tidak ada target nilai transaksi tertentu selama pameran berlangsung,” ujar Sofianto Widjaja, Managing Director PT Pelita Promo Internusa (PPI) selaku panitia penyelenggara pameran itu kepada media di Jakarta.
 
Menurut Sofianto, jumlah peserta pameran yang berpartisipasi pada pameran tahun ini meningkat 20% dibandingkan tahun 2016. Pameran ini akan bekerja sama dengan 148 perusahaan dari 14 negara di antaranya Australia, India dan Belanda. Sebanyak 12 ribu pengunjung diperkirakan hadir di pameran yang akan diselenggarakan di Jakarta International Expo, Kemayoran dari tanggal 28-30 September 2017.
 
Beberapa perusahaan peserta pameran Refrigerasi dan HVAC ke-3 dan IISM ini antara lain: Daikin, McQuay, Berca, Gree, Wongso Cool, Carel Asia, Johnson Control, Patkol, Samsung, Panasonic, Optergy, Sinofreeze, Gunung Es 13 dan lainnya.
 
“Dengan posisi Jakarta sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan kegiatan bisnis di seluruh negara, para pebisnis dari Jakarta dan daerah lainnya serta para importir internasional membutuhkan sistem rantai pendingin yang lengkap, seperti peralatan refrigerasi untuk menunjang kualitas hasil laut dan produk daging yang baik,” jelas Thomas Darmawan, Chairman of Permanent Committee on Food & Beverage Processing Industry KADIN.
 
Pada giliarnnya, sistem rantai pendingin yang lengkap itu, untuk memenuhi kebutuhan pasar akan layanan produk yang efisien, pasokan yang cukup, teknologi baru, peralatan yang inovatif, dan proses yang akan diperkenalkan pemasok lokal dan perusahaan internasional dalam kedua pameran tersebut.
 
Thomas menguraikan, salah satu yang harus menjadi pusat perhatian kita adalah sistem pendinginan untuk ikan hasil tangkapan di kapal nelayan. Ini sejalan dengan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo, bahwa sektor makanan dan energi menjadi sektor prioritas di tahun 2017 ini. Industri makanan sangat berkaitan erat dengan industri pendingin untuk membantu mempertahankan kualitas dari makanan.
 
Dijelaskan Sofianto, dengan pertumbuhan industri Indonesia yang pesat di seluruh negara berkembang, para pelaku bisnis harus menyediakan operasi distribusi dan rantai pasokan end-to-end untuk mendukung pertumbuhan domestik yang kuat dan pergerakan perdagangan.
 
Sebagai negara maritim dengan kekayaan laut yang luas, jumlah makanan laut dan pengolahan makanan di Indonesia dianggap potensial. Kementrian Kelautan dan Perikanan semakin terdorong untuk lebih mengembangkan industri ini.
 
Menurut Hasanuddin Yasni, Chairman Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), potensi bisnis atau size market cold storage untuk menyimpan makanan segar di Indonesia mencapai angka 60 juta ton per tahun. Nilai investasinya sekitar Rp 80 triliun.
 
by Eva Martha Rahayu
 
Sumber: SWA


STAY IN TOUCH WITH US!

Sign up to receive our newsletter